Home

Thursday, January 19, 2012

Amalan Praktis dan Doa-Doa Pilihan

Amalan dan doa-doa di sini merupakan suatu ringkasan dari manfaat dan kegunaannya. Dilengkapi teks arab, transliterasi arab-latin dan terjemahan:

Dampak Buruk Amarah dan Cara Praktis Pengobatannya
Penyakit Jiwa: Marah (Ghadhab) dan Pengendalian Amarah
Pengampunan Dosa Dengki (hasad)
Akibat-Akibat Buruk Bangga Diri dan Pengobatannya
Penyakit Jiwa: Bangga Diri dan Peringkatnya
Doa untuk Menangkal Sihir
Ayat-Ayat Al-Qur’an untuk Menangkal Sihir
Cara Praktis untuk Mengobati Penyakit Dengki
Doa Keselamatan dari Badai
Penyakit Jiwa: Dengki dan Penyebabnya
Doa untuk Mencapai Hajat dan Keberkahan
Hari-Hari Baik dan Berkah Untuk Mulai Aktivitas dan Transaksi
Doa Penolak Bala’ dan Bencana
Dilengkapi teks arab, transliterasi arab-latin dan terjemahan
Hari-Hari Nahas untuk Mulai Aktivitas dan Transaksi
Doa dari Al-Qur’an untuk Pasangan Suami-Istri dan Keturunan
Cara Melacak Dua Macam Suara Halus dalam Hati
Doa dari Al-Qur’an untuk Orang Tua dan Anak
Shalat dan Doa untuk Menundukkan Lawan
Tips dan Doa untuk Sukses di Bidang Pertanian
5 Doa dari Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah)
Shalat dan Doa untuk Mendapatkan Kemudahan Rejeki
Doa Bakdah Shalat Fardhu
Tips dan Doa untuk Meraih Cinta Sejati
Tata Cara dan Doa Ziarah Kubur
Doa untuk Menghilangkan Tekanan Batin
Doa untuk Orang Tua
Akibat Berbakti kepada Orang Tua
Doa untuk Anak
Meraih Sukses Alami itu Indah
Tips Menembus Hijab Pintu Rejeki
Tips Agar Rejeki yang Mencari Anda
Wasiat Nabi saw tentang Hubungan suami-istri
10 Wasiat Nabi SAW untuk Mengusir Bisikan Setan, Jin dan Manusia
Kisah Isteri dan Harta pindah ke Tangan Orang lain
Rumah Idaman dalam Perhitungan Islami
Kesucian Jiwa dan Kesuksesan

Wassalam
Copas dari Syamsuri Rifai http://syamsuri149.wordpress.com
read more...

Saturday, November 5, 2011

Puasa Sunnah

Puasa Sunnah


Puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala yang mana Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang mengamalkannya,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إلا الصِيَامَ. فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ. فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ وَلا يَجْهَلْ. فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ – مَرَّتَيْنِ -  وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ. لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ المِسْك. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ. وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata keji, dan janganlah berteriak-teriak, dan janganlah berperilaku dengan perilakunya orang-orang jahil, apabila seseorang mencelanya atau menzaliminya maka hendaknya ia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa (dua kali), demi Yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat dari wangi kesturi, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yakni ketika ia berbuka ia berbahagia dengan buka puasanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya ia berbahagia dengan puasanya.” (HR Bukhari, Muslim dan yang lainnya)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لا يَصُوْمُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ الله. إلا بَاعَدَ اللهُ، بِذَلِكَ اليَوْمِ، وَجْهَهُ عَنِ النَارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً.

“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak perjalanan.” (HR. Bukhari Muslim dan yang lainnya)

Sebagaimana jenis ibadah lainnya maka puasa haruslah didasari niat yang benar yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata serta dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Secara Syar’i makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum dan jima’ serta segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” ,

Maka jika seseorang menahan diri dari makan dan minum tidak sebagaimana pengertian di atas atau menyelisihi dari apa yang menjadi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tentu saja ini merupakan hal yang menyimpang dari syariat, termasuk perbuatan yang sia-sia dan bahkan bisa jadi mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala,

Penyimpangan yang bisa terjadi diantaranya:

1. Berpuasa tidak dalam rangka beribadah kepada Allah

Semisal seseorang yang berpuasa karena hendak mendapatkan bantuan dari jin/syaitan berupa sihir atau yang lainnya, atau bernazar puasa kepada selain Allah,  maka perbuatan ini termasuk kesyirikan yang besar karena memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun seseorang yang berpuasa semata-mata karena alasan kesehatan, walaupun hal ini boleh-boleh saja akan tetapi ia keluar dari pengertian puasa yang syar’i sehingga tidaklah ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan puasa sebagaimana yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.

2. Menyelisihi tata cara Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, diantaranya:

Mengkhususkan tata cara tertentu yang tidak dituntunkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, semisal puasa mutih (menyengaja menghindari makan daging atau yang lainnya), puasa sehari semalam tanpa tidur atau tanpa berbicara dengan menganggap hal ini memiliki keutamaan dan yang lainnya.
Mengkhususkan waktu tertentu yang tidak dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal mengkhususkan puasa pada hari  atau bulan tertentu tanpa dalil dari al-Qur’an dan sunnah, ataupun mengkhususkan jumlah hari yang tidak dikhususkan dalam syariat.
Maka seyogyanya kaum muslimin menahan diri dari beribadah tanda dasar ilmu atau tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim)

Maka berikut ini adalah beberapa jenis puasa yang dianjurkan di dalam Islam di luar puasa yang wajib (Puasa Ramadhan) berdasarkan dalil-dalil yang syar’i, semoga kita diberi kemudahan untuk mengamalkannya berdasarkan ilmu dan terhindar dari perkara-perkara yang menyelisihi syariat Allah subhanahu wa ta’ala sehingga kita dapat memperoleh berbagai keutamaan dari apa-apa yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.

Puasa-puasa Sunnah yang Dituntunkan Dalam Islam

1. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal

Dari Abu Ayyub Al-Anshory bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ. ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال. كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بعَشْرةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرين، فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

“Puasa pada bulan Ramadhan  seperti berpuasa sepuluh bulan , dan puasa enam hari setelahnya seperti berpuasa selama dua bulan, maka yang demikian itu (jika dilakukan) seperti puasa setahun.” (Hadits shahih Riwayat Ahmad)

Catatan:

Puasa Syawal tidak boleh dilakukan pada hari yang dilarang berpuasa di dalamnya, yakni pada hari Idul Fitri.
Puasa tersebut tidak disyaratkan harus berurutan, sebagaimana kemutlakan hadits –hadits di atas, akan tetapi lebih utama bersegera dalam kebaikan.
Jika ada kewajiban mengqodo’ puasa Ramadhan maka dianjurkan mendahulukan qodo baru kemudian berpuasa Syawal 6 hari sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshori di atas.
2. Puasa pada hari Arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَام ُيَوْمِ عَرَفَةَ  أحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. وَالسَّنَةَ الّتِي بَعْدَهُ

“Puasa pada hari Arofah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Catatan:

Adapun bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, maka yang lebih utama adalah tidak berpuasa pada hari Arofah sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.
3. Puasa pada hari Asyura’ (10 Muharrom) dan sehari sebelumnya

Dari Abu Qotadah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari ‘Asyuro’, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim)

Catatan:

Adapun berpuasa pada hari yang ke sebelas maka dalilnya sangat lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.
4. Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat  beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR. Bukhari)

Catatan:

Adapun mengkhususkan puasa atau amalan lainnya pada nisfu sya’ban (pertengahan sya’ban), maka hal ini tidak ada tuntunannya dalam syariat, karena dalil-dalil yang ada sangat lemah dan bahkan ada yang maudhu (palsu).
Hendaknya tidak berpuasa pada hari syak (hari yang meragukan apakah sudah masuk ramadhan atau belum), yakni sehari atau dua hari pada akhir Sya’ban, kecuali bagi seseorang yang kebetulan bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukannya dari puasa-pusa sunnah yang disyariatkan semisal puasa dawud atau puasa senin kamis.
5. Memperbanyak Puasa Pada Bulan Muharrom

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَ أفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ صَلاةُ اللَيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yakni bulan Muharrom, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

6. Puasa Hari Senin dan Kamis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Amal-amal ditampakkan pada hari senin dan kamis, maka aku suka jika ditampakkan amalku dan aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, riwayat An-Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ. وَيَوْمٌ بُعِثْتُ (أَوْ أَنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ)

“Ia adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus (atau diturunkan (wahyu) kepadaku ).” (HR. Muslim)

7. Puasa 3 hari setiap bulan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

أوْصَانِى خَلِيْلِى صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاثٍ: صِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَى الضُحَى، وَأَنْ أَوْترَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan,   dua rakaat shalat dhuha, dan  shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

Lebih dianjurkan untuk berpuasa pada hari baidh yakni tanggal 13, 14 dan 15 bulan Islam (Qomariyah). Berdasarkan perkataan salah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْر ِثَلاثَةَ أَيَّامِ البَيْضِ: ثَلاثَ عَشْرَةَ، وَ أَرْبَعَ  عَشْرَةَ ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada tiga hari ‘baidh’: tanggal 13, 14 dan 15.” (Hadits Hasan, dikeluarkan oleh An-nasa’i dan yang lainnya)

8. Berpuasa Sehari dan Berbuka Sehari (Puasa Dawud ‘alaihis salam)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا (متفق عليه)

“Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Dawud, adalah beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya, adalah beliau berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beberapa Hal yang Terkait Dengan Puasa Sunnah

Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, dan minum serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.
Seseorang yang berpuasa sunnah diperbolehkan membatalkan puasanya jika ia menghendaki, dan tidak ada qodho atasnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ:( هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ ) فَقُلْنَا: لا. قَالَ: ( فَإِنِى إِذًا صَائِمٌ ) ، ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَر. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ . فَقَالَ: ( أَرينيْهِ، فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ) فَأَكَلَ. (رواه مسلم)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari datang kepadaku kemudian berkata: “Apakah engkau memiliki sesuatu (dari makanan)?”, kemudian kami berkata: “tidak”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau begitu saya berpuasa”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada hari yang lain kemudian kami katakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dihadiahi haisun (kurma yang dicampur minyak dan susu yang dihaluskan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawalah kemari, sesungguhnya aku tadi berpuasa”, kemudian beliau memakannya (HR. Muslim)

Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seijin suaminya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَصُوْمُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلا بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya menyaksikannya kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sumber:

Shohih Fiqh Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih madzahib al-A’immah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid  Salim
Shiyam Ramadhan, Muhammad bin Jamil Zainu
Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah wa Kitabil Aziz, Dr. Abdul Adzim Badawi
Wallahu ‘alam

***

Penulis: Abu ‘Aisyah  M. Taufik
Artikel www.muslim.or.id


read more...

Friday, October 21, 2011

Eight Quality Management Principle

Prinsip Manajemen Mutu adalah aturan yang komprehensif dan mendasar atau kepercayaan, untuk memimpin dan mengoperasikan organisasi/perusahaan, yang bertujuan untuk terus meningkatkan kinerja jangka panjang dengan berfokus pada pelanggan seraya menanggapi kebutuhan semua stakeholder lainnya (pelanggan, pemilik, karyawan, pemasok dan limgkungan masyarakat)


Prinsip Manajemen Mutu seharusnya disadari sebagai alat/tools organisasi/manajemen perusahaan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dan yang lebih penting adalah manajemen perusahaan memahami esensi dari mengapa/pentingnya diikuti/dilakukannya Prinsip Manajemen Mutu, dan apa yang terjadi apabila tidak diikuti/dilakukannya Prinsip Manajemen Mutu, juga akibat yang ditimbulkan apabila salah satu dari Prinsip Manajemen Mutu diabaikan. Dan lihat apa yang akan terjadi?! (M.T. mode on :) )

Coba kita kupas satu demi satu Prinsip2 yang terdapat didalamnya.

1. Fokus terhadap Pelanggan (Costumer Focus)
Artinya:
Perusahaan tergantung pada Pelanggannya, karena itu manajemen harus memahami kebutuhan pelanggan sekarang dan yang akan datang.
Manajemen harus memenuhi kebutuhan pelanggan dan berusaha melebihi keinginan dan harapan Pelanggan.
Pelanggan yang dimaksud disini adalah pelanggan baik internal maupun eksternal.

Contoh dari pelanggan internal:
Manajemen suatu perusahaan adalah kumpulan proses  yang dijabarkan melalui persyaratan-peryaratan input dan output pada masing-masing proses  yang saling berkesinambungan. ex. Manager - Finance - Marketing - Contract Admin - SCM - Warehouse - Engineering - Quality - Safety - Fabrication - Construction, masing-masing proses/departement adalah pelanggan dari proses sebelumnya. Dari sini dapat dilihat baik buruknya suatu manajemen, dinilai dari seberapa baik kepuasan diantara internal costumer-nya sendiri.

Kepuasan pelanggan eksternal tidak akan pernah dicapai selama pelanggan-pelanggan internal tidak terpuaskan.

Dengan menggunakan metode Maket In, yaitu memberikan kepuasan  secara maksimal melalui produk/jasa yang dihasilkan.
Metode ini menyatakan bahwa setiap orang dan proses dalam perusahaan harus memahami:

  1. Apa produk yang dihasilkan? 
  2. Siapa pelanggannya dan apa yang diinginkannya? 
  3. Tingkat kepuasan pelanggan? 
  4. Cara meningkatkan kepuasan pelanggan?
Tanpa itu semua maka apa yang dilakukan akan dibuat berdasarkan persyaratan/kemampuan sendiri, yang sangat mungkin tidak memenuhi apa yang disyaratkan oleh pelanggan sebenarnya.

2. Kepemimpinan (Leadership)
Artinya: Seorang pemimpin harus mempunyai suatu arah dan tujuan yang jelas dari suatu organisasi/manajemen perusahaan yang dipimpinnya. Pimpinan harus menciptakan dan memelihara kondisi2 internal (yang berdampak positif pada perilaku kerja/membangun semangat kerja) agar karyawan dapat menjadi terlibat secara penuh dalam pencapaian sasaran organisasi/manajemen perusahaan. Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat: "pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata"
Untuk menerapkan prinsip ini maka dapat dilakukan hal-hal berikut:
  1. Menetapkan suatu visi, misi yang jelas dari perusahaan untuk masa
    mendatang melalui perencanaan bisnis yang tepat
  2. Menetapkan sasaran dan target yang menantang serta menerapkan strategi
    guna pencapaiannya
  3. Menciptakan dan memelihara nilai-nilai dan keyakinan bersama, keadilan
    dan etika pada semua tingkat dalam perusahaan
  4. Menciptakan kepercayaan
  5. Menyiapkan orang-orang dengan sumber daya yang diperlukan. Yang harus diperhatikan oleh setiap leader didalam membina dan mengembangkan SDM adalah membentuk karyawan yang: Mempunyai kemampuan teknik dan sistem manajemen dibidangnya dan mempunyai morale/mental seperti yang diharapkan dan kemauan yg tinggi
  6. Menghargai atas inspirasi, kontribusi karyawan dalam perusahaan
‎...rusaknya harapan dan kecilnya hati orang mengenai kebaikan hidup hari ini dan di masa depan, seharusnya menjadi perintah bagi sang pemimpin untuk memperbaiki diri dan keamanahan kepemimpinannya, dan tanda bagi yang dipimpinnya untuk memikirkan kepindahan organisasi atau penggantian pemimpin... Mario Teguh
read more...

Tuesday, October 4, 2011

New Vs Old Welding Cable

At the present time, there is welding cable manufacturers who prefer the lower the quality of their products rather than having to boost production costs which will result in a higher selling price. see how they reduce the volume of copper inside the cable that causes:
1. Cable conductivity decreases
2. Cable quickly became a hot
3. Cable fast peeling
4. Safety
aspect of the welder
Picture attached is a welding cable with a size 70, so please be more careful when buying a product, it could be the items that you purchased does not accordance with the way you expect.

Cheers... :)
read more...

Monday, October 3, 2011

Great Team

R0CK1N' UP 50R0W4K0... FINALLY IN THE BEGINNING...
read more...

Tuesday, June 28, 2011

...Jangan Biarkan Bangsa Lain Mencoba Menekan Hidup Kita... Bikin Malu Saja...

a cut off lyric of Slank song(Indonesian live legend rock band) means a big thing to me... now...
change is a change, but is not a change if at the end we must conquer/suffered our own nation on behalf of other nations ... we have minds, feelings and conscience ... do not be like the buffalo that matched at his nose ... if this happens, THE HELL WITH THE CHANGES, CHANGES THAT DO NOT MAKE THINGS BETTER ... let us pray for the men who had died of his heart. may Allah Almighty give the best way for all of us ... Ameen
read more...

Tuesday, June 21, 2011

BASIC ELECTRODES

Basic electrodes are so named because the covering is made with a high
proportion of basic minerals/compounds (alkaline compounds), such as calcium
carbonate (CaCO3), magnesium carbonate (MgCO3) and calcium fluoride (CaF2).
A fully basic electrode covering will be made up with about 60% of these basic
minerals/compounds.
Characteristics of basic electrodes are:
- The basic slag that forms when the covering melts reacts with impurities, such as sulphur and phosphorus, and also reduces the oxygen content of the weld metal by de-oxidation
- The relatively clean weld metal that is deposited gives a very significant improvement in weld metal toughness (C-Mn electrodes with Ni additions can give good toughness down to ~ -90°C)
- They can be baked at relatively high temperatures without any of the compounds present in the covering being destroyed, thereby giving low moisture content in the covering and low hydrogen levels in weld metal
- In order to maintain the electrodes in a low hydrogen condition they need to be protected from moisture pick-up
- By means of baking before use (typically at ~350°C), transferring to a holding oven (typically at ~120°C) and issued in small quantities and/or using heated quivers (‘portable ovens’) at the work station (typically ~70°C)
- By use of vacuum packed electrodes that do not need to be re-baked before use
- Basic slag is relatively viscous and thick which means that electrode manipulation requires more skill and should be used with a short arc to minimise the risk of porosity
- The surface profile of weld deposits from basic electrodes tends to be convex and slag removal requires more effort

Metal powder electrodes contain an addition of metal powder to the flux coating to increase the maximum permissible welding current level. Thus, for a given electrode size, the metal deposition rate and efficiency (percentage of the metal deposited) are increased compared with an electrode containing no iron powder in the coating. The slag is normally easily removed. Iron powder electrodes are mainly used in the flat and H/V positions to take advantage of the higher deposition rates. Efficiencies as high as 130 to 140% can be achieved for rutile and basic electrodes without marked deterioration of the arcing characteristics but the arc tends to be less forceful which reduces bead penetration.
read more...